Search

Membelah Jawa dan Sumatera...Ini 6 Fakta Dahsyatnya Letusan Nenek Moyang Krakatau

Istilah "Dark Age" selalu dikaitkan dengan masa kegelapan bangsa Eropa yang dimulai sejak redupnya kekaisaran Romawi pada 476 M akibat migrasi dan tekanan kaum Barbar.

Keruntuhan Romawi terjadi ketika kaisar terakhir dari kekaisaran Romawi Barat, Romulus Augustus, diberhentikan oleh Odoacer, seorang Jerman (Julius Nepos) yang menjadi penguasa Italia dan meninggal pada tahun 480 M. Sejak saat itu dikatakan Eropa telah memasuki masa-masa Kegelapan (Dark Ages). Masa-masa Kegelapan ini berlangsung kira-kira dari tahun 476 M itu hingga masa Renaisans (1600).

Apa penyebab migrasi kaum Barbar di awal periode Dark Age yang terjadi di Eropa itu?

Banyak jawaban yang diberikan, tapi kini argumentasi yang menguatkannya adalah letusan besar Krakatau 535 M. K. Wohletz, seorang ahli vulkanologi di Los Alamos National Laboratory, Amerika Serikat, telah melakukan serangkaian penelitian letusan Krakatau 535. Hasil simulasinya menunjukkan betapa dahsyatnya letusan itu. Letusan sebesar itu telah melontarkan 200 km3 magma (bandingkan dengan Krakatau 1883 yang melontarkan magma sejumlah 18 km3). Letusan Krakatau 535 M berlangsung selama sepuluh hari, tetapi letusan puncaknya berlangsung selama 34 jam dan menghasilkan kawah berukuran antara 40-60 km.

Kecepatan bahan yang dimuntahkan (mass discharge) sebesar 1 miliar kg/detik. Awan letusan (eruption plume) telah membentuk perisai di atmosfer setebal 20-150 m, dan menurunkan temperatur 50-100 C selama 10-20 tahun.

Bencana tersebut telah mendatangkan wabah sampar yang mendunia, gagal panen, dan revolusi. Kekurangan pangan membuat kaum barbar bermigrasi dan menyerang kemana-mana. Pada saat itu di Eropa terjadi transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Bizantium, kejayaan Persia Purba, dan Arabia Selatan berakhir.

Sementara di bagian dunia lainnya, misalnya di Benua Amerika seperti peradaban Nazca yang penuh teka-teki, Metropolis Teotihuacan, dan kota besar Maya Tikal berakhir. Jadi pasca letusan Krakatau 535 M tersebut membuat dunia dalam keadaan keos (chaos). Matahari dan bulan bersinar lebih redup karena tertutup debu vulkanik selama 18 bulan, menyebabkan perubahan iklim global.

Dampak Letusan Krakatau 535 M sangat besar dan di Eropa saat itu, istilah “Dark Age” bukan hanya menunjukkan "gelap" dalam arti sesungguhnya, tetapi juga menunjukkan arti lain sebagai kemunduran peradaban. Sementara di kawasan lainnya seperti di Arabia disebut periode "Jahiliyah".

Istilah apa yang tepat untuk Indonesia? Seperti apa kira-kira yang terjadi di sini? Di Indonesia sendiri, khususnya di Jawa dan Sumatra sejarah kerajaan-kerajaan tidak ada yang lengkap atau istilah Keys adalah "the missing link of the history".

Keys mencontohkan di Pulau Sumatra terjadi kesenjangan (sejarah yang hilang) hampir 100 tahun, (535 – 650 M), yaitu antara kerajaan yang berbasiskan budaya Pasemah sampai kemunculannya kerajaan Sriwijaya. Sementara di Pulau Jawa kesenjangan terjadi hampir 200 tahunan (535 – 750 M), yakni antara kerajaan yang berada di Jawa bagian barat sampai kemunculan kerajaan-kerajaan di Jawa bagian tengah.

Memang secara fisik akan sangat sulit menelusuri sejarah yang hilang tersebut, karena dampak erupsi super volcano Krakatau mengakibatkan kerusakan fisik yang luar biasa beratnya termasuk hancurnya peradaban. Tentu akan sulit untuk merekontruksinya.

Namun sebetulnya sejarah itu tidak hilang apabila mengacu pada silsilah raja-raja di tanah Sunda menurut naskah-naskah Pangeran Wangsakerta. Menurut naskah Wangsakerta tersebut jaman keemasan Tarumanagara terjadi pada masa Raja Purnawarman (395-434) yang mampu memperluas wilayah Tarumanagara, dan banyak diabadikan di dalam bentuk Prasasti. Prasasti terpenting yang mengabarkan keberadaan Purnawarman dimuat dalam prasasti Ciaruten, menjelaskan: "Kedua jejak telapak kaki yang seperti jejak telapak kaki Wisnu ini kepunyaan penguasa dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman raja Tarumanagara".

Pada jaman itu pula, masalah hubungan diplomatil ditingkatkan. Sehingga wajar jika Pustaka Nusantara menyebutkan bahwa kekuasaan Purnawarman saat membawahi 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga (Purbolinggo) di Jawa Tengah. Dikemudian hari secara tradisional Ci Pamali (Kali Brebes) dianggap batas kekuasaan rajaraja penguasa Jawa Barat pada masa silam, demikian juga pada masa Manarah dan Sanjaya di Galuh.

Langkah-langkah pengembangan Tarumanagara oleh Purnawarman secara terperinci diuraikan di dalam Pustaka Pararatvan I Bhumi Jawadwipa. Seperti usaha memindahkan ibukota kerajaan kesebelah utara ibukota lama, di tepi kali Gomati, dikenal dengan sebutan Jayasingapura. Kota tersebut didirikan Jayasingawarman, kakeknya. Kemudian diberi nama Sundapura (kota Sunda). Ia pun pada tahun 398 sampai 399 M mendirikan pelabuhan di tepi pantai. Pelabuhan ini menjadi sangat ramai oleh kapal-kapal kerajaan Tarumanagara.

Let's block ads! (Why?)

from Berita Internasional, Sains, Feature, Kisah Inspiratif, Unik, dan Menarik Liputan6 kalo berita gak lengkap buka link di samping http://bit.ly/2BLrIt8

Bagikan Berita Ini

Related Posts :

0 Response to "Membelah Jawa dan Sumatera...Ini 6 Fakta Dahsyatnya Letusan Nenek Moyang Krakatau"

Post a Comment

Powered by Blogger.