:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2708828/original/031588900_1548043730-Joe2-01_h.jpg)
Liputan6.com, Aceh - Penampilan Joe bersahaja. Pria bernama lengkap Muhammad Zulkiram ini suka memakai songkok dan mengenakan baju terusan yang memanjang hingga selutut serta membiarkan janggut dan berewok menutupi wajahnya.
Jika bertemu dengan orang lain, Joe selalu menampakkan raut muka penuh senyum. Tidak jarang, dia menyapa orang-orang tersebut sembari mengajak mereka salat berjamaah ketika azan berkumandang.
Lelaki kelahiran Montasik, Aceh Besar, 12 Oktober 1989 ini, sudah enam tahun menjadi bagian Jamaah Tabligh, atau Tablighi Jama'at, sebuah gerakan dakwah besutan Muhammad Ilyas al-Kandhlawi. Gerakan dakwah yang lahir sejak 1920-an ini, memiliki ribuan pengikut hampir di seluruh belahan dunia.
Bagi Joe, tak ada manusia yang punya sifat nirmala, karena semua orang pernah jatuh terjerembab dalam kesalahan. Pilihan ada pada diri masing-masing, entah itu memilih untuk menetap, atau bangkit untuk memperbaiki kesalahan tersebut.
Joe memilih yang kedua. Medio 2013 lalu, polisi ganteng yang tengah dirundung sejumlah masalah ini, mulai membiasakan diri membaur bersama Jamaah Tabligh.
Ketika itu, dia sedang bermasalah dengan tunangannya yang menurut Joe bukan wanita baik-baik. Pada saat yang sama, dirinya merasa hidup begitu membosankan karena sebagian besar dihabiskannya untuk berfoya-foya.
"Saya pikir, karena hidup saya enggak baik. Di saat itu, ada sejumlah jemaah yang sering mengetuk pintu atau mendatangi rumah-rumah warga. Kebetulan lagi banyak masalah, ikutlah saya. Sebenarnya dulu sudah sering didatangi, namun saya tidak pernah mau ikut ke masjid," tutur Joe, kepada Liputan6.com, Jumat, 18 Januari 2019, malam.
Joe mulai jatuh hati kepada kelompok yang selalu mendorong pengikutnya untuk melakukan misi pengabaran jangka pendek, yang dikenal sebagai khuruj. Dia mulai beriktikaf bersama Jamaah Tabligh selama beberapa hari di masjid yang ada di dekat tempat tinggalnya.
"Pulang dari tiga hari itu, saya langsung berubah. Saya langsung meninggalkan rokok. Salat jamaah tidak tinggal. Niat mencari ilmu pun semangat. Saya datangi dayah-dayah (tempat pengajian kitab) untuk mengikuti pengajian," ujarnya.
Belakangan, Joe diajak oleh Jamaah Tabligh ikut khuruj fi sabilillah, yakni tinggal di suatu wilayah, beriktikaf sembari melakukan dakwah dari rumah ke rumah. Saat itu, Joe ikut khuruj selama 40 hari, yakni 20 hari di Banda Aceh, dan 20 hari di Thailand.
Ketika ikut khuruj fi sabilillah, polisi ganteng ini masih tercatat sebagai anggota kepolisian. Dia mengaku sudah meminta izin cuti dari atasannya untuk ikut bersama Jamaah Tabligh.
Sepulang dari Thailand, Joe kembali berdinas di satuannya. Saat itu, dia mengaku mulai tidak bersemangat bertugas di kepolisian, terlebih, Joe mengaku sering mendapat cibiran dari rekan-rekannya.
"Beberapa bulan saya sempat kembali berdinas. Karena teman-teman kantor tahu saya sudah hijrah, jadi seperti di bully gitu di kantor. Saya pun jadi tidak tenang," aku Joe.
Polisi ganteng itu memutuskan untuk mengundurkan diri dari kepolisian. Namun, Joe tidak diperbolehkan mengundurkan diri, dengan alasan, dirinya belum sepuluh tahun berdinas di kepolisian.
"Akhirnya, saya pun memutuskan untuk desersi. Mangkir biar cepat-cepat dipecat secara tidak hormat. Saat itu, sekitar Desember 2014. Terakhir saya dinas atau terakhir ke kantor itu tanggal 20 Desember 2014," sebutnya.
from Berita Daerah dan Peristiwa Regional Indonesia Terbaru kalo berita gak lengkap buka link disamping http://bit.ly/2MlMOTZBagikan Berita Ini
0 Response to "Kisah Hijrah Joe, Polisi Ganteng Asal Aceh Mencari Berkah Tuhan"
Post a Comment