:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2796926/original/037460400_1557111362-IMG20190505170447.jpg)
Liputan6.com, Banten - Ayah Saidi Putra, warga Badui menangis saat menyampaikan pesan masyarakat Badui di hadapan Gubernur Banten Wahidin Halim.
Ayah Saidi bertahun-tahun sejak 2007 tak pernah lelah menyampaikan harapan Suku Badui Dalam dan Luar, agar diberi perlindungan hukum desa adat, melalui Peraturan Daerah (Perda).
"Kalau masalah desa adat, dari 2007 sampai saat ini belum begitu jelas. Karena banyak yang nimprung," kata Ayah Saidi saat ditemui Liputan6.com di sela-sela Seba Badui, di Museum Negeri Banten, Kota Serang, Minggu (5/5/2019).
Begitupun permintaan tambahan lahan pertanian. Seiring bertambahnya penduduk Suku Badui Dalam dan Luar, lahan pertanian semakin sempit.
Lahan Suku Badui seluas 5.138 hektare, untuk permukiman dan pertanian. Penduduk Badui kini mencapai 7.000 Kepala Keluarga (KK). Sekitar 50 persennya memilih menggarap lahan pertanian di luar perkampungan Badui. Ditambah, maraknya perambahan hutan yang terus merangsek hingga permukiman Badui.
"Untuk lahan setiap kita cerita, pasti direspon. Tapi hasilnya enggak ada, enggak ada buktinya," ujarnya.
from Berita Daerah dan Peristiwa Regional Indonesia Terbaru kalo berita gak lengkap buka link disamping http://bit.ly/2DSs6YPBagikan Berita Ini
0 Response to "Air Mata Warga Badui yang Harapannya Tak Pernah Dikabulkan Pemerintah"
Post a Comment