:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2822676/original/032202400_1559626710-Sultan_Keraton_Kasepuhan_Cirebon_PRA_Arief_Natadiningrat_menikmati_musik_gamelan_sekaten_usai_melaksanakan_Salat_Id_di_Masjid_Agung_Sang_Cipta_Rasa.jpg)
Ada tradisi lain yang digelar keraton untuk merayakan hari kemenangan umat muslim ini. Alunan musik gamelan di area Siti Inggil Keraton Kasepuhan Cirebon menjadi tanda bahwa umat muslim Cirebon merayakan Lebaran.
Gamelan tersebut dinamakan sekaten yang selalu ditabuh setiap Idul Fitri dan Idul Adha. Gamelan berusia 600 tahun itu dibunyikan setelah Sultan Keraton Kasepuhan keluar dari Mesjid Agung Sang Cipta Rasa.
Arief menuturkan, gamelan sekaten juga merupakan bagian dari media dakwa Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan Islam di Cirebon.
Saat itu, kata dia, masyarakat yang melihat gamelan sekaten diharuskan membayar. Namun membayarnya dengan menyebutkan dua kalimat syahadat.
"Alat musik gamelan banyak, tapi di kami disesuaikan sesuai momen. Kalau momen pertunjukan biasa gamelan sekaten tidak kami keluarkan karena gamelan ini sangat sakral," ujar Arief.
Pada pelaksanaan Salat Id tahun ini, Keraton Kasepuhan mengeluarkan tongkat khotbah (Cis) milik Sunan Gunung Jati. Tongkat tersebut dikeluarkan Sultan Arief dan diserahkan kepada penghulu keraton.
Dia menuturkan, tongkat tersebut menjadi salah satu ciri khas Sunan Gunung Jati saat berkhotbah. Tongkat tersebut digunakan Sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam di Cirebon dan sejumlah daerah yang lain.
"Menyebarkan Islam sebagai agama yang mengajarkan kedamaian. Sekarang tongkatnya hanya keluar satu tahun dua kali, yaitu Salat Idul Fitri dan Idul Adha saja," sebut Sultan Arief.
Saksikan video pilihan berikut ini:
Sultan Kasepuhan Cirebon mengklarifikasi isu hoaks terkait referendum Sultan dan Raja se- Indonesia
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Ada Orde Baru di Balik Tradisi Salat Id Dua Kali Keraton Kasepuhan Cirebon"
Post a Comment