Agak berbeda dengan Handry TM, penyair alumni Persada Study Klub (PSK) asuhan Umbu Landu Paranggi, Eko Tunas, menyebutkan bahwa Semarang sesungguhnya memiliki potensi dahsyat. Banyak karya-karya hebat yang lahir dari Kota Semarang.
"Ketika mereka berekspresi di luar Semarang, akan sangat meledak. Meskipun di Semarang sebenarnya tergolong biasa saja," kata Eko.
Eko Tunas bersama Emha Ainun Nadjib dan Ebiet G Ade dan EH Kartanegara adalah empat serangkai yang sangat diperhitungkan dalam dunia perpuisian. Ebiet memilih melantunkan puisi-puisinya menjadi sebuah lagu. Itu sebabnya Ebiet pernah menolak disebut penyanyi dan merasa nyaman disebut penyair.
Apa yang disampaikan Eko Tunas memang sangat benar. Semarang melahirkan banyak seniman-seniman hebat. Tak terkecuali penyair.
Ganug Nugroho Adi, seorang penulis budaya yang bermukim di Solo menilai, apa yang disampaikan Eko Tunas benar. Namun, orang-orang hebat di Semarang ini besar dan tak memberi pengaruh signifikan dalam peta perpuisian nasional.
"Triyanto itu mampu menembus jaringan nasional karena pertemanannya sendiri, bukan karena Semarang memiliki kekhususan. Ini bisa dimengerti karena Semarang tak punya sejarah panjang dalam proses para penyairnya yang sudah menasional," kata Ganug.
Ganug mencontohkan bahwa almarhum Darmanto Jatman ketika berada di Semarang ia sudah selesai dalam berproses. Eko Tunas juga sudah selesai ketika berproses di Yogya bersama Emha Ainun Nadjib dan lainnya.
Ganug lalu mencontohkan iklim di Yogya. Teater Gandrik dinilai Ganug menjadi laboratorium banyak penulis. Ketika Heru Kesawa Murti meninggal, mereka masih memiliki Indra Tranggono, kemudian lahir Agus Noor.
"Di Semarang itu ada penggemar puisi, ada juga penulis puisi. Mereka saling mendukung. tapi itu hanya cukup untuk Semarang, dari jaringan nyaris tak ada yang mencoba membangun jaringan," kata Ganug.
Simak video menarik berikut :
simak video menarik berikut
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Semarang dalam Peta Puisi Nasional"
Post a Comment